Artikel/KaryaSumatera Barat

Demi Virus Corona, Tetaplah Dirantau

Berbagi itu Indah

Yohanes WempiOleh, Bagindo Yohanes Wempi

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Kepala Daerah Kab/Kota telah mengeluarkan surat himbauan kepada seluruh perantau asal Minangkabau untuk tidak pulang kampung untuk sementra waktu.

Keputusan itu diambil berdasarkan  hasil rapat Gugus Tugas Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 23 Maret 2020 mengenai Pencegahan Penyebaran Covid-19 dan keputusan ini juga diikuti oleh beberapa Kepala Daerah Kab/Kota.

Kebijakan ini harus diambil demi mencegah penularan virus corona penyebab Covid-19. Ini mengingat semakin meluasnya penyebaran Covid-19 di Indonesia dan banyaknya warga Sumatera Barat yang merantau di daerah-daerah yang saat ini sudah terpapar virus tersebut.

Himbawan ini sangat relevan demi kebaikan bersama. Jika perantau pulang membawa virus corona tanpa disadari bisa saja mengenai keluarga para perantau sendiri. Jika ia membawa virus pulang makin menyebar lah virus corona di Minangkabau.

Maka itulah semua elemen masyarakat di ranah meminta dengan bermohon kepada perantau tetap di tempat masing-masing seperti di Jakarta yang memiliki penanganan lebih baik dan daerah lainnya juga lebih baik.

Secara budaya Minangkabau kebijakan ini memang berat, urang Minangkabau tidak pernah melakukan atau mengenal budaya “marantau cino” (pindah kesuatu tempat tidak kembali ke asal). Budaya merantau Minang, walaupun jauh merantau akhirnya balik juga kekampung untuk melepas kerinduan atau membuat rumah kegadangan dipusako. Seperti istilah “satinggi tambang bangau baliaknyo kakubangan juo”.

Baca Juga:  Tindak Lanjuti Masalah Abrasi, Kepala Desa Sikabaluan Menemui Wakil Ketua Dewan

Namun jika kondisi mendesak, di rantau masih bersatus pendatang belum memiliki surat pindah atau tidak ada KTP menetap di rantau yang pada akhirnya harus pulang atau di rantau tidak adalagi mata pencarian, dunsanak tidak ada, dan keadaan parah lainnya yang akhirnya terpaksa pulang maka penulis menyarankan agar Pemerintah Daerah membuat mekanisme khusus mereka bisa masuk ke Sumatera Barat.

Langkah antisipasi ada keterpaksaan tersebut kembali ke kampung karena sesuatu hal yang prinsip maka Pemprov harus membuat mekanisme dengan cara adalah perantau sebelum pulang membuat/mengajukan laporan keposko utama dan posko Kab/Kota untuk menyampaikan keinginan pindah ke ranah minang alasan khusus.

Setelah dilakukan pelaporan perantau pulang ini, lalu Pemerintah Daerah harus menerima dengan proses standar bahwa sang keluarga perantau yang pulang dilakukan tes kesehatan, ketika sehat dilakukan isolasi khusus selama 14 Hari di daerah dimana perantau ini berasal. Jika ditemukan tidak sehat atau mengidap penyakit virus corona, langkahnya sama-sama diobati sampai sembuh.

Menurut penulis ruang agar perantau bisa ditampung di ranah karena kondisi/keadaan khusus perlu diambil kebijakan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah. Sehingga perantau pulang dengan kondisi terpaksa bisa diselamatkan di ranah Minang.

Namun jika kondisi perantau Minangkabau di sana masih bisa dicarikan jalan terbaik dan bisa bertahan sepahit hidup maka demi kecintaan kekampung halaman tetaplah di rantau sampai kondisi daerah kondisif, atau sampai “badai virus corona berlalu.[*].


Berbagi itu Indah

Comment here