Kategori

Makam Syekh Burhanuddin, Surau-Surau Tuo

yohanes kabarOleh, Bagindo Yohanes Wempi

Masyarakat perlu kembali mengingatkan peran besar Syekh Burhanuddin di Minangkabau. Beliau seorang ulama Minangkabau yang telah menanamkan sandi-sandi Islam dan merobah tatanan kehidupan ranah bundo ini menjadi kehidupan beragama Islam, sampai hari ini. Semuanya masih tertanam dengan prinsip yaitu “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, artinya adalah setiap masyarakat Minangkabau beragama Islam.

Tak terpungkiri, perkembangan syiar Islam di Minangkabau, diawali dari dakwah yang dilakukan oleh ulama besar, Syekh Burhanuddin tersebut. Ulama besar yang datang dari daerah pesisir pantai atau Luak Rantau yang dikenal sekarang dengan Piaman. Selanjutnya, berkembang menuju daratan Tanah Datar (Luak Rajo), sampai kerajaan Pagaruyung, dan merata Islam di seluruh Minangkabau dan pulau Andalas secara umum.

Kebesaran dakwah beliau di Minangkabau telah mengisi ruang sendi-sendi kehidupan diantaranya adalah posisi Masjid Nagari yang ada Minangkabau. Merupakan bagian dari syarat keutuhan suatu nagari (nagari ba musajik, ba pasa, ba pamandian), maka ada namanya Masjid Nagari  (musajik nagari ampe angke,) yang keberadanya di bawah pengelolaan dan perlindungan, ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai (pengurus sidang masjid).

Foto Makam Syekh Burhanuddin Sebelum Direnovasi

Foto Makam Syekh Burhanuddin Sebelum Direnovasi

Begitu juga nilai-nilai Isalam dapat dilihat dari berkesenian nagari. Seluruh kesenian tradisional yang ada di Minangkabau, semuanya telah bernapaskan Islam seperti indang, saluang, luambek, silek, tari piriang dan lainnya. Kesenian yang tidak bernapaskan Islam dianggap haram oleh Syekh  Burhanuddin dan pengikutnya. Seperti kesenian Simarantang, yang haram, karena anak laki-laki dibuat seperti wanita.

Disamping itu dapat dilihat juga dalam kehidupan bersosial dan permainan anak nagari. Ini dapat kita lihat dengan dilarangnya permainan anak nagari yang bertentangan dengan Agama Islam seperti menyambung ayam, mengadu kerbau, dan kebiasaan berburu babi yang tidak diawali oleh syariat Islam.

Kebesaran tersebut tidak hanya terlihat dari nilai-nilai Minang saja tapi bisa juga dilihat dari keutuhan jamaah pengikutnya paska beliau meninggal. Dimana di sekitar makam terdapat surau-surau dari seluruh pengikutnya yang tersusun rapi dan berjejer di sekitar makam Syekh Burhanuddin. Apabila ditengok dari syekh-syekh dan wali-wali Islam lain di nusantara yang telah menyebar Islam, mugkin hanya makam Syekh Burhanuddin yang berdiri surau-surau tempat pengikutnya berkumpul. Wujud berkumpul ini dikenal dengan istilah basapa yaitu sapa gadang dan ada sapa ketek.

Keberadaan makam Syekh Burhanuddin ini dengan surau-surau di lokasi sangatlah kental ketika penulis berdiskusi dengan Hery Firmansyah Tuangku Kalifah yang memegang pusaka peninggalan Syekh Burhanuddin terungkap bahwa makam Syekh Burhanuddin dengan surau tuo  di sekeliling sangat lah sakral. Dua paduan itu ada muatan ikatan ritual yang kuat menancap dikedua tempat tersebut. Prihal itu nampak terwujud ketika jatuh pelaksanaan hari-hari basapa tersebut. Dimana surau-suarau itu akan dihuni oleh para jamaah dari berbagia nagari dan daerah di Sumatera Barat, dan Sumatera.

Dari diskusi Penulis tersebut, ada satu kesepahaman bahwa keberadaan surau-surau tuo  di sekitar makam harus dipertahankan keberadaanya, dilarang kepada pemerintah daerah atau pihak lain yang akan memindahkan surau-surau tuo tersebut dari makam dengan alasan apa pun, dengan dorongan kekuatan apapun. Jika ada dari pemerintah daerah atau pihak lain ingin melakukan pembenahaan dan perbaikan keberadaan silahkan di areal makam Syekh Burhanuddin, tapi untuk mempercantik dan silahkan diperindah keberadaan surau-suaru tuo dan makam tersebut dengan tidak merubah bentuk bangunan dan wujud aslinya.

Surau-Surau Tuo yang berdiri dimakam, merupakan surau dengan arsitektur nilai-nilai budaya Islam yang dibawa oleh Syehk Burhanuddin dahulu, semuanya telah terpadu dengan makam secara permanen. Namun silakan anggaran yang ada diarahkan kesana tapi jangan sekali-kali memindahkan atau merobah bentuk. Apalagi bentukmya dimoderen-moderenkan atau disesuaikan dengan gedung zaman now. Surau-suaru Tuo dan makam Syekh Burhanuddin tetap sakral dan wujud jangan digangu.

Namun jika ada keinginan dan pendanaan dilakukan untuk pengembangan menjadi lokasi wisata religius dikawasan makam Syekh Burhanuddin ini, dan ada keinginan penambahan-penambahan fiu maka dipersilahkan karena masih banyak tanah kosong yang bisa dibebaskan untuk pembangunan itu, seperti contoh di kawasan sungai kecil, atau diseberang sungai terdapat tanah kosong, ini bisa dipercantik dan diperindah menjadi areal wisata yang bagus.

Sungai kecil yang ada disekitar makam, sangat bagus dibeton setiap pinggir, agar nampak rapi dan indah. Sungai pun bisa dimasukan ikan koi atau ikan nila emas untuk dipelihara agar sungai itu memberikan pemandangan yang menarik bagi pendatang atau pengunjuk ziarah. Sedangkan tanah kosong bisa juga disulap menjadi tempat parkir, pondok-pondok tempat mengaji dan lebih luas lagi bisa juga dibangun hotel tempat orang menginap ketika berziarah kemalaman.

Banyak ide-ide yang bisa dibuat untuk mengembangkan kawasan makam Syekh Burhanuddin, namun hanya satu kata yang perlu sama-sama dipahami dan diingat bahwa makam Syekh Burhanuddi dan surau-surau yang tua tetap dipertahankan seperti nilai budaya Minang yang tetap melekat dalam ajaran Syekh Burhanuddin sampai sekarang [*].

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>