Kategori

Manfaat Maulid Nabi Di Nagari Piaman

yohanes wempiOleh, Bagindo Yohanes Wempi

Maulid Nabi Muhammad. SAW diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal kalender Hijriah. Jika dihitung sejak tulisan ini dibuat sudah lebih kurang 15 hari berlalu di tahun 2019 ini, bertepatan dengan hari Minggu, 9 November.

Kemeriahan maulid nabi didaerah Padang Pariaman terasan sekali, Masjid-masjid nagari pasti diadakan maulid yang melibakan banyak masyarakat, seolah-olah disaat pelaksanaan maulid tersebut semua aktivitas masyarakat dialihkan pada kegiatan maulid tersebut.

Maulid urang Piaman mayoritas mengikuti ajaran Syekh burhanuddin, Maulid dengan model Syaraf Al-anaam yang dipakai. Daerah Piaman sesuai warih nan bajawek setiap nagari dipastikan melaksanakan maulid model Syarafal Al-anaam tersebut.

Perlu diketahui bahwa peringatan Maulid ber-Syarafal Al-anaam tersebut merupakan ajaran Syattariyah, Maulid dengan acara model Syaraf Al-anaam dipastikan diselenggarakan di Surau Kaum/Korong atau di masjid nagari, jika dimasjid tersebut tidak model Maulid ber Syaraf Al-anaam maka Masjid tersebut merupakan masjid anak dagang atau dikenal masjid aliran diluar Syattariyah.

Penulis lahir dari kehidupan kaum Syattariyah, secara umum paham dan mengerti dengan Maulid Nabi ber-Syaraf Al-annam ini, Prosesnya dikenal dengan acara badikia yang dilakukan oleh kaum tarekat Syattariyah yang dibawakan oleh urang siyak (Ahlinya). Badikia atau dikia adalah merupakan lantunan irama merdu yang menceriterakan sejarah kelahiran Nabi Muhammad. SAW sampai beliau meninggal.

Menurut pengetahuan diterima penganut
tarekat Syattariyah di Padang Pariaman, badikia pertama kali diciptakan oleh
Syaikh Burhanuddin Ulakan dalam rangka penyebaran Islam. Setelah
Syaikh Burhanuddin Ulakan meninggal, tradisi itu disebarluaskan oleh
para murid beliau.

Pada akhirnya tahap berikutnya, tradisi badikia berkembang luas
karena murid-murid Syaikh Burhanuddin tersebar diberbagai wilayah di
Minangkabau atau Nusantara (Yusriwal, 1998: 1.3).

Prosesi Maulid Syaraf Al-Anaam jika dijelaskan melalui tahapan-tahapan yang panjang, awal mulanya Ninik Mamak, Kapalo Mudo, Tokoh-tokoh dan panitia akan barundiang (Musyawarah) menjelaskan tahapan-tahapan dari acara Maulid Syaraf Al-anaam ini kepada semua yang terlibat atau hadir.

Setelah dijelaskan maka Labai (orang alim yang mengurus ritual Islam di kaum/suku) akan dimintak mendudukan tuangku/ulama diposisinya, yaitu posisi puncak dibawa tirai (kain yang berendo-rendo dipasan diloteng/pas diatas kepala) adalah tuangku/ulama tuo (tertua dari gala adatnya), setelah itu diikitu baris berikutnya yang tuangku muda adat dan penutup adalah seluruh labai-labai dan urang siang (Ahli badikia) lainnya.

Setelah semua tuangku/ulama, orang siak, labai duduk ditampeknya maka dilakukan tahap berikutnya adalah proses kata sambah, sambah adalah Ninik Mamak, akan memintak kepada tuangku tatuo untuk melaksanakan ritual acara badikia dan acara Maulid, kegiatan lainnya.

Ketika sambah tadi selesai barulah urang siak atau tuangku melakukan prosesi badikia, yang bunyi suranya keras, merdu. Jika dihayati lantun dikia bagi yang tahu maka akan terasa diri kita berada dalam kehidupan kisah lahirnya Nabi Muhammad. SAW tersebut.

Pelaksanaan Maulid Syaraf al-Anaam ini sangat panjang waktunya yaitu dimulai dari habis Sholat Isya, serta selesai besoknya bada Sholat Asar. begitu juga orang yang terlibat didalamnya sangat banyak dan komplek kegiatan, diataranya adalah yang laki-laki akan mengumpulkan uang dalam bentuk sumbangan, lalu uang itu diletakan diujung dahan seperti pohon.

Apabilah dilihat sepintas lalu pohon berdaunkan uang, Jika dihitung uang yg digantung di ranting pohon tersebut bisa bernilai puluhan juta. kebiasaan nagari bahwa satu pohon dibuat merupaka represetasi dari setiap daerah korong/Jorong. Jika dimasjid nagari itu ada 4 Korong/Jorong maka jumlahnya akan ada 4 pohon uang yang merupakan sumbangan untuk acara Maulid.

Sedangkan kaum perempuan/emak-emak akan dilibatkan dalam sumbangan dalam bentuk batangan lamang (Makanan panggang didalam batang bambu) dan sumbangan dalam bentuk nasi jamba (Makanan yang disusun berlapis-lapis dalam satu wadah diikat kain) yang akan diberikan saat tamu/peserta Maulid makan pagi dan makan siang.

Cerita peringatan Maulid Nabi Muhammad. SAW diatas jika dilihat disetiap Nagari akan berbeda-beda prosesi acara dan kemeriahannya, kata urang bijak Piaman “lain lubuk lain ikannya”, “lain ladang lain hilallangnya”. Dimana beberapa masjid nagari aliran Syattariyah sebelum prosesi badikia dilakukan, panitia melakukan dahulu ceramah oleh tuangku kondang seperti Muhammadiyah.

Ada juga pelaksanaannya dibikin lebih meriah lagi dengan dilaksanakannya kegiatan salawat dulang (dua orang yang bercertia, terkesan bernyanyi sambil mengendang/memukul dulang/talam) sebagai hiburan sambil mendengarkan pesan hikmah dari lirik yang disampaikan dalam salawat dulang tersebut.

Tidak itu saja, diberapa Nagari ada juga bunga lado tadi agar banyak yang mau menyumbang, diaraklah keliling kampung pakai alat tabuie tasa (alat kesenian seperti drom yang dipukul bagian ujung) sampai dimasjid. Sesampai dimasjid terkadang pohon uang tersebut dihoyak-hoyak seperti tabuik pasie Piaman.

Maulid Nabi Muhammad. SAW di Padang Pariaman sangat heroik dan meriah. Disaat ulama besar H. Zubir Tuangku Kuning masih hidup beliau pernah mengisi ceramah, di Masjid Al-Iklas Nagari Koton Tinggi, Enam Lingkung menjelaskan maaf dari Maulid yang diadakan dengan banyak nasi jamba, banyak makanan batang lemang, dan sumbangan bungo lado/uang yang terkumpul.

Misal Nasi Jamba, seking besarnya antosias dari perempuan/emak-emak menyumbang makanan/nasi jamba kemasjid, maka makanan nasi jamba yang diantar kemasjid tersebut melebih orang-orang yang memakannya. Sehingga nasi jamba tersebut dibawa pulang lagi, lalu dibagi-bagikan oleh emak-emak tersebut ke tetangga yang kurang mampu, sehingga hari itu semuanya menikmati keindahan dan kebahagiaan berbagi dimomen maulid.

Begitu juga dengan bungo lado/pohon uang, dimana masing korong, kaum bisa mengumpulkan banyak sumbangan, yang diakhir kegiatan maulid masih bersisa dana besar, yang dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk kelanjutan pembangunan masjid atau untuk pembiayaan kegiataan pengajian untuk anak-anak nagari.

Kata Buya Tuangku Kuning juga, karena maulid melibatkan banyak orang, sehingga momen acara tersebut semuanya pasti berkumpul dimasjid, semuanya hadir dimasjid melakukan interkasi sosial, silaturahim masal umat terbangun. Terkadang mereka yang tidak paham dengan kisah Nabi Muhammad. SAW bisa didapat dari cermaah dari lantun badikia, atau mendengarkan salawat dulang yang diadakan.

Masyarakat hikmat mengikiti maulid Nabi tersebut, semua bersuka ria memperingati acara maulid Nabi tersebut. Sedangkan pengurus yang kreatif bisa manfaat maulid Nabi untuk mensosialisasikan program-program masjid, yang ini akan membuat masyarakat makin cinta kemasjid.

Banyak manfaat dari acara Maulid Nabi Nagari di Piaman, semoga ajara Syekh Burhanuddin tetap dipertahankan untuk membuat Padang Pariaman adil dan Makmur [*].

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>